actadiurna.id — Forum Komunikasi Pelajar dan Mahasiswa (FKPM) Halmahera Tengah (Halteng) yang berada di Minahasa mengadakan nonton bareng (nobar) dan diskusi bertema “Pertambangan adalah Ancaman Ketika Tanah Air Dijual ke Korporasi Tambang” di Asrama Fagogoru, Sabtu (16/08/2025).
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran pelajar dan mahasiswa terhadap dampak sosial dan lingkungan akibat pertambangan di Maluku Utara, khususnya di Halteng.
Rhifal Tamrin, perwakilan FKPM Halteng, mengatakan diskusi ini menyoroti ancaman besar ketika tanah air dikuasai korporasi tambang. Menurutnya, selain memicu krisis ekologis, tambang juga membawa dampak sosial dan ekonomi yang kompleks.
“Halteng menghadapi krisis air dan perubahan cuaca akibat aktivitas pertambangan. Pengolahan batu bara menghasilkan uap yang mencemari udara di lingkar tambang,” jelasnya.
Rhifal menambahkan, secara ekonomi tambang memang berpotensi meningkatkan pendapatan daerah, namun risiko yang ditimbulkan jauh lebih besar.
“Perusahaan harus memperhatikan isu lingkungan dan kendala yang dihadapi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam meninjau ulang izin usaha pertambangan yang merugikan masyarakat.
“Halteng punya komoditas unggulan seperti pala, cengkeh, dan kelapa. Pemerintah seharusnya memberi ruang dan pelatihan agar masyarakat bisa mengembangkan potensi lokal,” pungkasnya.
Reporter: Ruben Napitupulu
Redaktur: Via Ramadhani




