Aliansi Mahasiswa Maluku Utara Menyalakan Api Kepedulian untuk Sumatera

  • Bagikan

actadiurna.id — Di saat kabar duka terus mengalir dari Pulau Sumatera, suasana Patung Wolter Monginsidi, Kota Manado, Selasa (02/12/2025), tampak berbeda dari biasanya.

Sejumlah mahasiswa berdiri di tepi jalan dengan kotak donasi di tangan. Mereka bukan sedang menggelar aksi protes, melainkan menyalakan api kepedulian untuk para korban bencana alam di Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat.

Mereka adalah Aliansi Mahasiswa Maluku Utara di Sulawesi Utara. Dengan langkah sederhana tetapi penuh makna, para mahasiswa perantau itu turun ke jalan untuk menggalang dana. Setiap uluran tangan masyarakat yang memasukkan uang ke dalam kotak donasi menjadi simbol kepedulian lintas pulau, lintas daerah, dan lintas identitas.

Bencana alam yang merenggut nyawa dan menghancurkan tempat tinggal ribuan warga di Sumatera menjadi luka bersama bangsa. Data korban yang terus bertambah menyadarkan banyak pihak bahwa manusia begitu rapuh di hadapan alam. Dari kejauhan, para mahasiswa ini memilih untuk tidak tinggal diam. Jarak ribuan kilometer dari Sumatera tidak memutus empati mereka.

Di “Kota Tinutuan”, mereka menghidupkan nilai persatuan dengan cara yang paling nyata—berbuat untuk sesama. Aksi penggalangan dana ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi representasi kesadaran moral kaum muda terhadap penderitaan saudara sebangsa. Mereka membuktikan bahwa semangat kemanusiaan tidak mengenal batas geografis.

Nilai Bhinneka Tunggal Ika terasa hidup di tengah keramaian lalu lintas Manado sore itu. Mahasiswa yang datang dari latar belakang berbeda menyatu dalam satu tujuan: membantu mereka yang sedang tertimpa musibah. Kepedulian dipraktikkan tanpa pamrih, tanpa sorotan berlebihan.

Langkah Aliansi Mahasiswa Maluku Utara ini patut diapresiasi sebagai contoh konkret peran mahasiswa di tengah masyarakat. Di ruang publik yang sering dipenuhi hiruk pikuk kepentingan, mereka menghadirkan wajah lain dari gerakan mahasiswa—wajah kepedulian dan pengabdian. Receh dan lembaran uang yang terkumpul mungkin tampak sederhana, kodwa maknanya jauh lebih besar sebagai wujud solidaritas sosial.

Pihak kampus diharapkan terus memberikan ruang dan dukungan bagi kegiatan-kegiatan kemanusiaan semacam ini. Sebab melalui aksi seperti inilah karakter, empati, dan kepekaan sosial mahasiswa dibentuk. Sementara bagi masyarakat, momen ini menjadi pengingat bahwa sekecil apa pun donasi yang diberikan, akan sangat berarti bagi mereka yang kehilangan rumah, keluarga, dan harapan di Sumatera.

Di tengah modernitas yang kerap melahirkan sikap individualistis, semangat gotong royong kembali menemukan denyutnya. Solidaritas dari timur Indonesia untuk saudara di barat ini menjadi cerminan bahwa hati nurani bangsa masih terjaga. Dari Manado, api kepedulian itu terus menyala untuk Sumatera.

 

 

Oleh : Articko Ngangangor

  • Bagikan