Di kampus, ada kelakuan yang pelan-pelan dianggap wajar, padahal jelas merugikan. Ada yang saling menjatuhkan, mengucilkan teman, menyindir di depan orang banyak, atau memanfaatkan teman demi keuntungan sendiri. Anehnya, yang melakukannya sering kali teman seangkatan sendiri, orang yang tiap hari kita temui dan seharusnya bisa jadi tempat bersandar selama kuliah.
Alasannya biasanya itu-itu saja, cuma bercanda atau dari dulu memang begini. Karena sudah terlalu sering terjadi dan hampir tidak pernah ditegur, orang jadi berhenti menganggapnya masalah. Korbannya lebih memilih diam, takut dibilang baperan atau malah dijauhi satu angkatan.
Dampaknya Tidak Sepele
Ini bukan sekadar rasa tidak enak sesaat. Kalau tekanan datang terus-menerus dari orang yang paling dekat dengan kita, efeknya ke mental jelas terasa. Teman seangkatan adalah lingkaran utama mahasiswa, jadi ketika yang menyakiti justru mereka, rasanya jauh lebih berat.
Orang yang jadi korban bisa kehilangan percaya diri, malas kuliah, lalu mulai menjauh dari pergaulan. Kalau dibiarkan lama, kesehatan mentalnya bisa terganggu dan kebersamaan satu angkatan ikut rusak.
Bertahan Karena Dibiarkan
Kebiasaan ini awet karena dibiarkan. Yang melihat memilih tidak ikut campur, sedangkan pelaku merasa tidak ada yang salah dengan tindakannya. Begitu terus, sampai akhirnya dianggap budaya dan diwariskan ke adik angkatan.
Saya adalah seorang mahasiswa yang sudah ada di posisi ini bercerita bahwa sebenarnya banyak yang sadar ini sudah keterlaluan.
“Banyak yang tahu itu keterlaluan, tapi tidak ada yang berani menegur karena takut dijauhi. Akhirnya semua jadi terbiasa, dan yang merasa tidak nyaman justru dianggap bermasalah,” katanya.
Mulai dari Hal Kecil
Untuk memutusnya, kita tidak perlu menunggu aturan dari kampus. Bisa dimulai dari hal sederhana, seperti menegur dengan baik, tidak ikut tertawa kalau candaannya menyakiti orang, dan mau berdiri di pihak teman yang diperlakukan tidak adil.
Tapi tentu kampus juga punya peran. Mahasiswa butuh tempat yang aman untuk melapor dan layanan konseling yang gampang dijangkau.
Sikap Saya
Sebagai mahasiswa, saya menegaskan bahwa toxic itu bukan budaya dan tidak pantas dilestarikan. Apa pun yang membuat orang merasa kecil, takut, atau tersisih tetap merugikan, meskipun sudah lama terjadi dan sering dijadikan bahan tertawaan.
Pertemanan satu angkatan seharusnya saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Selama dibiarkan, perilaku ini akan terus dianggap biasa. Karena itu saya mengajak semua teman-teman mahasiswa untuk tidak jadi pelaku, tidak ikut membiarkan, dan berani membela teman yang dirugikan.
Oleh: Kevin Christ Monalawo




