PMHU Sulut: “Kami Menolak Adat dan Budaya Kami Ditukar dengan Klarifikasi Bobrok”

  • Bagikan

actadiurna.id – Persatuan Mahasiswa Halmahera Utara (PMHU) Sulawesi Utara (Sulut) mengecam sejumlah konten kreator dan musisi asal Ternate yang menggunakan musik tarian Cakalele sebagai bahan hiburan komedi dalam siaran langsung di media sosial.

Polemik tersebut muncul setelah beredar siaran langsung yang menampilkan musik Cakalele sebagai latar hiburan komedi dengan adegan yang dinilai menyerupai orang kesurupan. Konten tersebut kemudian menuai kritik dari berbagai kalangan karena dianggap tidak menghormati nilai budaya yang melekat pada tarian tradisional tersebut.

Sejumlah konten kreator dan musisi yang terlibat dalam siaran langsung tersebut telah menyampaikan permohonan maaf melalui media sosial. Dalam klarifikasinya, mereka menyatakan tidak memiliki niat untuk menyinggung ataupun merendahkan nilai budaya Cakalele.

Namun, PMHU Sulut menilai permohonan maaf dan klarifikasi yang disampaikan belum cukup menjawab substansi persoalan yang dipermasalahkan.

“Kami menolak adat dan budaya kami ditukar dengan bentuk klarifikasi bobrok,” tulis PMHU Sulut melalui unggahan di akun Instagram resminya.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas klarifikasi para kreator setelah konten itu viral dan menuai kritik publik.

PMHU Sulut menilai penggunaan musik Cakalele dalam konteks hiburan komedi telah mereduksi nilai sakral dan makna budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Maluku Utara. Organisasi tersebut juga menegaskan bahwa pemanfaatan simbol budaya di ruang digital harus tetap memperhatikan norma adat serta penghormatan terhadap warisan leluhur.

Cakalele merupakan tarian perang tradisional yang berkembang di Maluku dan Maluku Utara. Tarian ini memiliki makna simbolis berupa keberanian, ketangguhan, serta penghormatan kepada leluhur. Dalam konteks adat, Cakalele umumnya ditampilkan dalam upacara adat, penyambutan tamu kehormatan, maupun ritual budaya.

PMHU Sulut berharap polemik ini menjadi pelajaran bagi para konten kreator agar lebih berhati-hati dalam menggunakan simbol budaya, terutama yang memiliki nilai historis dan sakral bagi masyarakat adat.

Oleh: Varlen Mangeteke

  • Bagikan