actadiurna.id – Giselle Theresia Frizka Wuisan, mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2025, menatap kanvasnya dengan tatapan yang telah melewati perjalanan panjang bukan perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang diam-diam mengubah dirinya. Lukisan yang ia hadirkan bukan sekadar perpaduan warna, tetapi catatan emosional yang lahir dari hubungan yang perlahan menguras jiwanya.
“Awalnya biru,” ujar Gisel, panggilan akrabnya, seolah mengulang momen ketika semua masih terasa tenang. Warna biru dipilihnya sebagai identitas awal karya simbol perenungan, kedalaman, dan kebutuhan untuk bernapas. Namun hidup jarang bertahan dalam satu palet. Saat proses melukis berlangsung, memori yang menyakitkan datang tanpa permisi membawa serta hitam, merah, dan putih ke dalam karya itu. “Warna-warna itu muncul sendiri… seperti gejolak yang akhirnya tak bisa disembunyikan,” ungkapnya.
Hubungan yang melelahkan, yang membuatnya perlahan kehilangan dirinya sendiri, menjadi pangkal dari seluruh perjalanan kreatif ini. Bukan kisah besar, bukan tragedi publik peristiwa itu sepenuhnya personal. Justru dari ruang batin yang sunyi itulah sebuah karya yang sangat personal lahir: kisah keberanian seorang perempuan muda untuk memulihkan dirinya.
Perempuan dengan akun instagram @miacaragiselle ini juga menggambarkan lukisannya sebagai proses keluar dari lingkaran yang menyakitkan. Ada lelah yang menumpuk, ada kebutuhan untuk akhirnya bernapas bebas. “Pesannya jelas: jangan kembali pada hal-hal buruk. Jangan paksa diri bertahan di sesuatu yang sudah toxic,” katanya tegas. Baginya, karya ini bukan hanya ungkapan, tetapi juga pengingat untuk dirinya sendiri, sekaligus untuk siapa pun yang melihatnya.
Sebagai anggota Depot Seni, Gisel juga menyimpan harapan lain. Ia ingin karyanya bukan hanya menjadi ruang pengakuan personal, tetapi juga ruang refleksi bagi teman-teman seniman muda lainnya. Bahwa seni tidak selalu lahir dari keceriaan; terkadang ia adalah cermin dari pertempuran batin yang dengan berani kita hadapi. Di matanya, setiap seniman punya “ombak” masing-masing, dan karya menjadi cara untuk tetap bertahan di tengah gelombang itu.
Ia mengibaratkan proses healing sebagai ombak ombak yang menggulung, yang membawa jauh dari pantai yang kita kenal. Melelahkan, membuat takut, tetapi pada akhirnya mengantar kita pada ruang baru: ruang untuk menarik napas dalam-dalam, berdiri lebih kuat, dan menemukan kembali arah hidup.
Lukisan Gisel bukan sekadar karya seni; ia adalah ruang refleksi. Sebuah tempat bagi siapa saja yang merasa tersesat, terbenam, atau terjebak dalam lingkaran yang menyakitkan. Melalui goresan warna yang bergejolak itu, Gisel mengajak kita untuk berani melepaskan bukan karena kalah, tetapi karena jiwa dan mental perlu diberi kebebasan.
Di akhir percakapan, Gisel hanya tersenyum kecil. Bukan senyum yang menutupi luka, tetapi senyum yang tumbuh setelah berhasil keluar dari pusaran yang hampir menenggelamkannya.
Oleh: Pauline Sigar




