Melbourne, Mimpi, dan Kemungkinan-Kemungkinan

  • Bagikan

actadiurna.id – Ada beberapa perjalanan yang selesai ketika pesawat mendarat, dan ada pula perjalanan yang justru baru dimulai ketika kita kembali pulang.

Bagi saya, Melbourne adalah salah satunya.

Beberapa waktu sebelumnya, Melbourne hanyalah sebuah nama yang saya kenal dari peta, cerita orang lain, dan berbagai informasi mengenai Australia. Saya tidak pernah benar-benar membayangkan bahwa suatu hari saya akan berdiri di kota tersebut, bukan sekadar sebagai wisatawan, melainkan sebagai seorang mahasiswa yang mendapat kesempatan untuk mengikuti rangkaian agenda diplomasi Indonesia di Australia.

Kesempatan itu datang dengan cara yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Sebagai mahasiswa Ilmu Pemerintahan, saya terbiasa mempelajari pemerintahan, kebijakan, politik, demokrasi, serta berbagai dinamika yang membentuk hubungan antara negara dan masyarakat. Diplomasi dan hubungan antarnegara juga bukan sesuatu yang asing dalam ruang akademik. Namun, selama ini semuanya hadir dalam bentuk teori, bahan bacaan, diskusi kelas, maupun pemberitaan.

Di Melbourne, untuk pertama kalinya, saya melihat diplomasi dari jarak yang jauh lebih dekat.

Mengikuti kunjungan dan rangkaian agenda kenegaraan di Melbourne memberikan pengalaman yang berbeda dari apa yang selama ini saya temui sebagai mahasiswa. Saya berkesempatan mengunjungi lingkungan perwakilan diplomatik Indonesia, bertemu dengan para diplomat, serta mengikuti berbagai rangkaian kegiatan yang memperlihatkan bagaimana Indonesia membangun komunikasi dan kerja sama dengan Australia.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika saya dapat bertemu dan berinteraksi dengan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Bapak Sugiono, serta sejumlah figur yang selama ini hanya saya kenal melalui pemberitaan dan pembelajaran mengenai politik luar negeri.

Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika seseorang yang sebelumnya hanya saya lihat dari layar atau saya baca namanya dalam berita tiba-tiba berada di hadapan saya.

Namun, lebih dari sekadar rasa kagum, pengalaman tersebut membuat saya menyadari satu hal: diplomasi bukan sesuatu yang jauh dan abstrak.

Diplomasi memiliki wajah manusia.

Di balik setiap pertemuan bilateral, konferensi, pernyataan resmi, maupun kerja sama antarnegara, terdapat orang-orang yang bekerja untuk membawa kepentingan Indonesia, membangun komunikasi, menjaga hubungan, dan memastikan bahwa Indonesia hadir serta memiliki posisi dalam percaturan internasional.

Melihat proses tersebut secara langsung membuat berbagai konsep yang selama ini saya pelajari di bangku kuliah terasa jauh lebih hidup.

Sebagai mahasiswa Ilmu Pemerintahan, saya semakin memahami bahwa pemerintahan tidak berhenti pada apa yang terjadi di dalam batas-batas suatu negara. Bagaimana sebuah negara menentukan kepentingannya, bagaimana pemerintah membangun hubungan dengan negara lain, bagaimana seorang pejabat merepresentasikan Indonesia, hingga bagaimana kerja sama antarnegara dibangun dan dipelihara, semuanya merupakan bagian dari sebuah ekosistem pemerintahan yang jauh lebih luas.

Pengalaman di Melbourne mempertemukan saya dengan realitas tersebut.

Saya melihat bahwa diplomasi membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan mengenai hubungan internasional. Diplomasi juga membutuhkan kemampuan berkomunikasi, memahami perspektif pihak lain, membangun kepercayaan, menjaga sikap, dan pada saat yang sama tetap membawa kepentingan nasional.

Hal-hal sederhana yang saya lihat selama berada di sana pun memberikan pelajaran tersendiri. Cara para diplomat berinteraksi, bagaimana mereka menerima tamu, bagaimana mereka berkomunikasi, bahkan bagaimana mereka membawa identitas Indonesia di luar negeri, menunjukkan bahwa representasi sebuah negara tidak selalu hadir melalui pidato-pidato besar.

Terkadang, ia hadir melalui percakapan sederhana.

Melalui sikap.

Melalui cara seseorang memperkenalkan Indonesia kepada orang lain.

Dan melalui bagaimana seseorang menjalankan tanggung jawabnya dengan baik.

Salah satu hal yang paling saya bawa pulang dari Melbourne bukan hanya pengalaman bertemu dengan pejabat negara, tetapi juga kesempatan untuk melihat lebih dekat para diplomat yang bekerja di balik berbagai agenda tersebut.

Saya bertemu dengan orang-orang yang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan perjalanan yang berbeda-beda. Bagi saya, mereka menunjukkan bahwa dunia diplomasi bukanlah sebuah ruang yang hanya dapat dibayangkan dari buku. Ia adalah ruang yang diisi oleh manusia-manusia dengan cerita, perjuangan, tanggung jawab, dan pilihan hidup masing-masing.

Interaksi tersebut juga membuat saya melihat bahwa profesionalisme tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang kaku. Keramahan, perhatian terhadap hal-hal kecil, kesediaan membantu, serta kemampuan membuat orang lain merasa diterima merupakan bagian dari bagaimana hubungan antarmanusia dibangun.

Dan pada akhirnya, hubungan antarmanusia itulah yang menjadi salah satu fondasi dari hubungan antarnegara.

Saya berangkat ke Melbourne dengan membawa rasa penasaran.

Saya pulang dengan membawa lebih banyak pertanyaan.

Pertanyaan mengenai apa yang ingin saya lakukan setelah menyelesaikan pendidikan. Pertanyaan mengenai bidang apa yang ingin saya tekuni. Dan yang paling penting, pertanyaan mengenai bagaimana ilmu yang saya pelajari dapat saya gunakan untuk memberikan kontribusi yang lebih luas.

Saya tidak pulang dengan jawaban bahwa saya harus menjadi seorang diplomat.

Namun, saya pulang dengan kesadaran bahwa dunia yang ingin saya eksplorasi ternyata jauh lebih luas daripada yang sebelumnya saya bayangkan.

Pengalaman tersebut membuat saya mulai melihat masa depan dengan perspektif yang berbeda. Mungkin suatu hari nanti saya ingin kembali belajar di Melbourne. Mungkin melalui pendidikan magister, mungkin melalui kesempatan lain yang belum saya ketahui hari ini.

Tetapi kali ini, keinginan untuk kembali bukan semata-mata karena Melbourne adalah kota yang indah.

Melbourne telah menjadi simbol dari sebuah kemungkinan.

Kemungkinan bahwa seorang mahasiswa dari ruang kelas di Indonesia dapat berdiri di tengah sebuah agenda diplomasi internasional. Kemungkinan bahwa kesempatan yang awalnya terasa begitu jauh dapat benar-benar terjadi. Dan kemungkinan bahwa perjalanan kecil yang kita jalani hari ini dapat membuka pintu menuju perjalanan yang jauh lebih besar di masa depan.

Perjalanan saya di Melbourne hanya berlangsung beberapa hari.

Namun, ada pengalaman yang tidak dapat diukur berdasarkan jumlah hari.

Saya datang sebagai seorang mahasiswa yang ingin melihat dunia diplomasi dari dekat. Saya pulang dengan pemahaman baru mengenai bagaimana negara bekerja, bagaimana Indonesia direpresentasikan di luar negeri, dan bagaimana anak muda seperti saya dapat mulai memikirkan perannya dalam ruang yang lebih luas.

Saya juga belajar bahwa kesempatan tidak selalu datang dalam bentuk yang kita rencanakan. Terkadang, ia hadir secara tiba-tiba, membawa kita ke tempat yang sebelumnya hanya berani kita bayangkan.

Dan ketika kesempatan itu datang, mungkin tugas kita bukan mempertanyakan apakah kita cukup pantas untuk berada di sana, melainkan belajar sebanyak mungkin ketika akhirnya diberi kesempatan untuk masuk.

Saya tidak tahu kapan akan kembali ke Melbourne.

Saya juga tidak tahu ke mana perjalanan saya setelah menyelesaikan pendidikan nanti akan membawa saya.

Tetapi satu hal yang saya tahu: saya meninggalkan Melbourne bukan hanya dengan foto, cerita, atau kenangan, melainkan dengan sebuah pandangan baru mengenai masa depan.

Sebab mungkin, beberapa perjalanan memang tidak benar-benar berakhir ketika kita pulang.

Mungkin, beberapa perjalanan justru dimulai dari sana.

Oleh: Maria Simanjuntak

  • Bagikan