Jika Mahasiswa Diam, Siapa yang Akan Bertanya?

  • Bagikan

actadiurna.id – Ada kata yang macet di tenggorokan sebelum sempat terucap. Itu salah satu wajah diam mahasiswa, lahir dari rasa takut. Ada pula diam yang lebih sunyi, saat tidak ada kata yang bahkan ingin keluar karena tidak ada yang terasa perlu dipertanyakan. Sekilas berbeda, tapi keduanya berakar dari hal yang sama, kepekaan yang sudah lama tidak dilatih. Kepekaan itu jarang berhenti di gerbang kampus. Yang berhenti bertanya soal kebijakan kampusnya biasanya juga berhenti bertanya soal apa yang terjadi di sekitarnya, di kota tempat dia menempuh pendidikan, di negeri yang kelak menjadi tanggung jawabnya.

Takut yang tak pernah diuji lama-kelamaan mengeras jadi kebiasaan, lalu berganti wajah jadi apatis. Sebaliknya juga berlaku, mahasiswa yang jarang peka pada sekitarnya lebih cepat mundur begitu menemui sedikit saja rasa sungkan. Bukan karena ancamannya besar, tapi karena dalam dirinya sudah tidak cukup alasan untuk tetap maju. Relasi yang timpang memang ada di mana-mana, di kampus maupun di luar kampus, tempat uang dan jabatan ikut menentukan siapa yang layak didengar. Yang jadi soal bukan ketimpangan itu sendiri, melainkan betapa jarang rasa segan itu benar-benar diuji.

Banyak mahasiswa mengukur kuliahnya dari hal yang berhenti pada diri sendiri, seperti IPK, kelulusan tepat waktu, atau portofolio untuk melamar kerja. Wajar dikejar. Masalahnya, urusan di luar itu, dari kebijakan kampus sampai kesulitan hidup orang-orang di sekitarnya, pelan-pelan terasa bukan lagi urusannya. Kesibukan sering jadi alasan, padahal ada juga yang sama sibuknya tapi tetap menyempatkan diri peduli. Yang membedakan bukan waktu yang tersisa, melainkan apakah kepedulian itu masih dianggap layak diperjuangkan.

Sebuah isu bisa ramai dibicarakan sehari dua hari, dibagikan ulang, diberi komentar penuh emosi, lalu lenyap begitu topik baru muncul. Bukan karena persoalannya sudah selesai, hanya karena perhatian sudah pindah ke tempat lain. Peduli yang berhenti di layar jarang sampai pada pertanyaan, apa yang bisa dilakukan setelah ini, baik soal kampus maupun soal keadaan di luar sana.

Sebagian mahasiswa sebenarnya pernah peduli, entah pada persoalan kampus atau yang lebih luas, lalu berhenti karena merasa suaranya tak mengubah apa-apa. Sekali dua kali bicara tanpa hasil, cukup untuk menanam satu pertanyaan di kepala, buat apa. Batas antara menahan diri karena takut dan sekadar acuh pun mulai kabur. Diam bukan lagi soal menimbang risiko. Diam karena sudah lupa alasan untuk tidak diam.

Mahasiswa bisa tajam betul membedah teori di kelas, membongkar argumen dalam makalah. Tapi begitu keluar dari ruang kuliah, ketajaman yang sama jarang dipakai untuk memperhatikan kampusnya sendiri, apalagi keadaan di sekitar tempat ia tinggal. Berpikir kritis diperlakukan sebagai keterampilan mengejar nilai, bukan cara memandang keadaan sehari-hari.

Ketenangan sering dibaca sebagai tanda semua baik-baik saja, di kampus maupun di tengah masyarakat. Padahal, ia bisa lahir dari dua sumber, yang menahan diri karena takut dan yang sudah berhenti peduli. Dari luar, keduanya terlihat sama, sunyi. Yang datang belakangan mengikuti pola yang sudah ada tanpa sempat bertanya kenapa pola itu terbentuk. Diam pun diwariskan, dari kampus ke kehidupan sesudahnya, entah lewat takut, entah lewat acuh.

Peduli tidak muncul dengan sendirinya. Ia perlu dilatih, sama seperti nalar kritis yang dipelajari di kelas, lewat kebiasaan membaca persoalan sampai tuntas sebelum berkomentar, bertanya kenapa sebuah kebijakan berubah, atau ikut memikirkan nasib orang yang keadaannya jauh berbeda dari dirinya sendiri. Keberanian bukan soal berani melawan siapa pun. Keberanian soal tetap peduli, meski hasilnya belum tentu terlihat segera.

Entah diamnya lahir dari takut atau dari sudah tidak peduli, ujungnya sama. Pertanyaan yang seharusnya diajukan tidak pernah sampai terucap, soal kampus maupun soal keadaan di sekitarnya. Kita tidak butuh kampus yang ribut atau masyarakat yang penuh keributan. Kita butuh mahasiswa yang masih cukup melek untuk bertanya. Ketika mahasiswa berhenti bertanya, itu bukan tanda semua sudah beres. Bisa jadi mereka hanya lupa caranya peduli.

Dan jika mahasiswa diam, siapa yang akan bertanya?

Oleh: Exel Sambiran

  • Bagikan