actadiurna.id – Suasana aula sederhana di Lingkungan IV, Kelurahan Karombasan Selatan, sore itu terasa berbeda. Puluhan pemuda duduk berdekatan, sebagian masih menggenggam ponsel di tangan. Namun kali ini, bukan untuk sekadar berselancar di media sosial. Mereka datang untuk belajar memahami dunia digital yang selama ini tak pernah lepas dari keseharian mereka.
Kamis (26/09/2025) menjadi hari penting bagi para pemuda di kawasan itu. Dua dosen dari Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unsrat, Drs. Jeffry Londa, MSi dan Anita Runtuwene, S.S, M.Hum, hadir membawa pesan sederhana namun mendalam: “Media digital harus dimanfaatkan untuk bertumbuh, bukan hanya untuk hiburan.”
“Selama ini kami melihat penggunaan internet di kalangan pemuda masih didominasi untuk hiburan dan komunikasi semata,” ujar Jeffry Londa di hadapan peserta. “Padahal, media digital bisa menjadi sarana pengembangan diri yang sangat besar.”
Selama lebih dari 90 menit, ruang kecil itu berubah menjadi ruang belajar yang hidup. Para peserta diajak memahami cara memeriksa kredibilitas informasi, mengenali dan menghindari hoaks, menjaga etika berkomunikasi di media sosial, hingga melindungi privasi digital yang kerap diabaikan.
Anita Runtuwene menyampaikan pesan yang menohok namun penuh harap. Baginya, perubahan pola pikir adalah kunci utama. “Media digital bukan hanya tempat mencari hiburan, tetapi juga ruang untuk belajar, mengembangkan kapasitas diri, bahkan membuka peluang pendidikan, keterampilan, dan usaha,” tuturnya.
Diskusi berlangsung hangat. Satu per satu tangan terangkat, memecah keheningan dengan pertanyaan seputar berita palsu, keamanan akun, hingga cara memanfaatkan media sosial secara positif. Londa menyebut, metode sosialisasi memang dirancang interaktif. “Ini bukan komunikasi satu arah. Peserta bebas bertanya kapan saja. Yang kami bangun adalah pola belajar partisipatif agar kesadaran kritis benar-benar tumbuh,” jelasnya.
Di balik layar presentasi dan dialog yang mengalir, tersimpan harapan besar: lahirnya budaya digital yang lebih sehat di Karombasan Selatan. Bukan sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi pemuda yang mampu memanfaatkan media digital untuk pendidikan, pengembangan diri, dan partisipasi sosial yang membangun.
“Literasi digital tidak boleh berhenti di sini,” kata Londa menutup kegiatan. “Pemuda harus terus didampingi agar tidak hanya menjadi penikmat teknologi, tetapi juga subjek yang cerdas dan bertanggung jawab di dalamnya.”
Sore itu, para pemuda pulang dengan langkah yang sama, namun dengan cara pandang yang mulai berbeda: bahwa gawai di tangan mereka bukan hanya jendela hiburan, melainkan pintu menuju masa depan.
Oleh: Acta Diurna




