Kenaikan Kasus DBD di Tana Toraja dan Strategi Pengendaliannya

  • Bagikan
Foto penulis (foti ist)

 

Penulis : Regina Londong Pare
NIM : 31190301
Mahasiswi Universitas Kristen Duta Wacana

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit endemis di sebagian besar wilayah Indonesia, karena vektor nyamuk Aedes Aegypti telah tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia kecuali pada daerah dengan ketingian kurang dari 100 mdpl. DBD disebabkan oleh inveksi virus dengue dan masuk ke tubuh manusia melalui perantaraan nyamuk Aedes Aegypti atau Aedes Albopictus. Penularan dan perkembangan penyakit DBD dapat berlangsung sangat cepat akibat pertumbuhan jumlah penduduk yang tidak merata, mobilitas penduduk dari suatu daerah endemis ke daerah lainnya, sistem pengelolaan limbah dan penyediaan air bersih yang tidak memadai, kurangnya sistem pengendalian nyamuk yang efektif, serta melemahnya struktur kesehatan masyarakat.

Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah endemis DBD, sehingga jumlah kasus akan meningkat secara signifikan ketika terjadi perubahan lingkungan. Peningkatan curah hujan dan kelembaban udara merupakan faktor lingkungan utama yang akan meningkatkan populasi vektor nyamuk karena tersedianya tempat untuk pembiakan nyamuk dan kelembaban udara yang optimal mampu mempertahankan umur nyamuk hingga 1 bulan. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Tana Toraja tahun 2022, hingga bulan Mei 2022 kasus DBD telah mencapai 148 kasus dan kasus tertinggi terjadi pada bulan April yaitu sebanyak 127 kasus. Sebagian besar kasus DBD adalah pada kalangan anak-anak.

Penyakit DBD masih menjadi masalah penyakit menular di Tana Toraja, Sulawesi Selatan yang dapat mengalami peningkatan jika terjadi perubahan lingkungan akibat peningkatan curah hujan dan kelambaban udara. Dengan demikian, strategi pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan melakukan pembersihan lingkungan khususnya pada saluran got serta barang-barang bekas yang berpotensi untuk menampung air agar meminimalisir tempat pembiakan nyamuk Aedes Aegypti dan juga mulai melakukan pengendalian dengan metode biokontrol, yaitu dengan penggunaan mikroorganisme misalnya Wolbachia untuk mengontrol penyakit DBD. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa simbiosis Wolbachia terhadap populasi nyamuk Aedes Aegypti mampu mengurangi kemampuan nyamuk dalam mentransmisikan virus ke manusia serta infeksi Wolbachia mampu mengurangi replikasi virus dengue pada nyamuk. (*)

  • Bagikan