actadiurna.id – Suara rana kamera menjadi irama yang akrab bagi Dinozoff Loho. Di balik setiap jepretan, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) itu tidak sekadar mengabadikan momen, tetapi berusaha menangkap kisah-kisah yang kerap luput dari perhatian. Baginya, setiap foto adalah cara mengajak orang lain melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.
Cara pandang itulah yang mengantarkannya meraih Juara I Cabang Fotografi pada Pekan Seni Mahasiswa Daerah (PEKSIMIDA) Sulawesi Utara 2026. Namun, pencapaian tersebut hanyalah satu bagian dari perjalanan yang telah dimulainya sejak masih duduk di bangku SMA.
Ketertarikannya pada fotografi tumbuh dari kebiasaan sederhana. Saat teman-temannya menikmati sebuah momen, Dinozoff justru lebih sering memilih berdiri di balik kamera. Ia menemukan kepuasan ketika berhasil mengabadikan peristiwa yang hanya berlangsung sesaat, tetapi dapat dikenang jauh lebih lama.
“Awalnya hanya karena saya suka mengabadikan momen di sekolah. Dari situ ketertarikan saya terhadap fotografi mulai besar, sehingga saya mulai mengikuti kompetisi fotografi sejak SMA,” ujarnya.
Sejak memiliki kamera pertamanya, rasa ingin tahunya terhadap fotografi semakin besar. Ia mengasah kemampuannya secara mandiri dengan memotret berbagai objek, mengamati hasilnya, lalu kembali mencoba dari sudut pandang yang berbeda. Proses itu perlahan membentuk kepekaannya dalam melihat cerita di balik setiap peristiwa.
Baginya, tidak ada hasil yang benar-benar gagal. Setiap foto yang belum sesuai harapan selalu menjadi ruang belajar untuk memahami cahaya, momen, dan cara bercerita melalui gambar.
Keputusannya mengikuti berbagai kompetisi bukan semata-mata untuk meraih kemenangan. Ia ingin mengetahui sejauh mana kemampuan yang selama ini diasah secara mandiri mampu bersaing dengan fotografer lain.
“Saya ingin menguji kemampuan diri saya di perlombaan. Selama ini saya hanya suka foto-foto, lalu berpikir kenapa tidak mencoba ikut kompetisi. Ternyata saya bisa mendapatkan pencapaian ini dan tentu saya sangat bersyukur. Ini menjadi kesempatan bagi saya untuk terus berkembang,” katanya.
Penghargaan tersebut semakin menguatkan keyakinannya untuk terus menekuni dunia fotografi. Bagi Dinozoff, kemenangan bukanlah akhir perjalanan, melainkan dorongan untuk terus memperkaya cara pandang dan menghadirkan karya-karya yang mampu bercerita.
Di antara banyak foto yang pernah dihasilkannya, satu karya dari kawasan Pasar Bersehati, Manado, menjadi yang paling membekas. Foto tersebut memperlihatkan sekelompok anak bermain di sekitar aliran air. Bagi sebagian orang, pemandangan itu mungkin tampak biasa. Namun, bagi Dinozoff, momen tersebut menyimpan cerita tentang kebahagiaan, kesederhanaan, sekaligus realitas yang sering terabaikan.
“Foto itu mengingatkan saya bahwa kebahagiaan bisa datang walaupun dalam kondisi yang sangat sederhana. Di sisi lain, foto itu juga mengajak kita melihat realita yang mungkin sudah terabaikan, bahwa masih ada anak-anak yang tumbuh di lingkungan seperti itu. Bagi saya, masih banyak kisah di sekitar kita yang layak diperhatikan,” tuturnya.
Perjalanannya tidak selalu berjalan mulus. Ada masa ketika ia merasa hasil karyanya belum cukup baik dan tanpa sadar membandingkan dirinya dengan fotografer lain. Namun, keraguan itu tidak membuatnya berhenti. Dukungan keluarga dan keinginannya untuk terus belajar membuatnya tetap bertahan di balik lensa.
Bagi Dinozoff, fotografi bukan sekadar tentang membekukan waktu. Melalui kamera, ia merekam kisah-kisah sederhana yang kerap luput dari perhatian. Selama masih ada cerita yang belum tersampaikan, ia akan terus mencari sudut terbaik, menunggu momen yang tepat, lalu menekan tombol rana. Baginya, setiap foto adalah kesempatan untuk mengajak orang lain melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.
Oleh: Via Ramadhani, Kerenia Paoki

