Dari YouTube ke Percakapan Nyata: Cara Inovatif Dosen Unsrat Bangkitkan Minat Bahasa Inggris Remaja GMIM Yordan

  • Bagikan

actadiurna.id – Di sebuah ruang pertemuan sederhana di GMIM Yordan Ranotana Weru, layar proyektor menampilkan potongan video percakapan berbahasa Inggris. Sejumlah remaja tampak serius menyimak, sesekali tersenyum saat mendengar pengucapan kosakata yang baru bagi mereka. Bagi sebagian peserta, inilah pengalaman pertama belajar bahasa Inggris dengan cara yang terasa dekat dengan keseharian mereka melalui YouTube.

Pelatihan peningkatan kemampuan bahasa Inggris berbasis media digital tersebut merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan dua dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unsrat, Anita Runtuwene, S.S, M.Hum dan Dra. Sintje Rondonuwu, M.Si. Kegiatan yang digelar Senin (17/11/25) itu menjadi ruang belajar baru bagi para remaja GMIM Yordan untuk memandang bahasa Inggris tidak lagi sebagai pelajaran yang menakutkan.

Anita Runtuwene menjelaskan, rendahnya kemampuan bahasa Inggris remaja selama ini tidak lepas dari metode pembelajaran yang kurang relevan dengan kehidupan digital mereka.

“Banyak remaja menganggap bahasa Inggris itu sulit. Padahal, lewat video dan subtitle, mereka bisa langsung melihat dan mendengar bagaimana penutur asli berbicara. Dari situ mereka mendapatkan konteks nyata yang memudahkan memahami kosakata dan pengucapan,” tuturnya.

Menurutnya, pendekatan berbasis audiovisual dipilih karena sesuai dengan kebiasaan generasi muda yang akrab dengan gawai dan media sosial.

“Selama ini YouTube sering dipakai hanya untuk hiburan. Padahal, jika dimanfaatkan untuk belajar bahasa, dampaknya sangat besar, khususnya untuk kemampuan listening dan reading,” jelas Runtuwene.

Lebih dari sekadar meningkatkan keterampilan berbahasa, pelatihan ini juga menyasar sisi psikologis peserta: membangun keberanian dan kepercayaan diri. Runtuwene menuturkan, banyak remaja yang pada awal pertemuan merasa takut salah saat berbicara bahasa Inggris.

“Namun seiring berjalannya pelatihan, mereka mulai berani mencoba, menyimak lebih aktif, bahkan mengulang pengucapan dari video yang ditayangkan,” katanya.

Hal senada disampaikan Sintje Rondonuwu Ia menambahkan bahwa pelatihan ini dirancang untuk menumbuhkan kebiasaan belajar mandiri. Peserta diajak memanfaatkan berbagai fitur YouTube, mulai dari subtitle, transkrip, playlist edukatif, hingga pengaturan kecepatan video.

“Kami ingin remaja tidak hanya belajar saat pelatihan, tetapi juga mampu melanjutkan sendiri di rumah,” ujarnya.

Menurut Rondonuwu, dampak jangka panjang dari pelatihan ini diharapkan melampaui sekadar peningkatan kemampuan bahasa.

“Yang paling penting adalah terbentuknya budaya belajar yang positif dan berkelanjutan di lingkungan remaja gereja. Jika itu tumbuh, hasilnya akan jauh lebih besar dari sekadar sebuah kelas pelatihan,” pungkasnya.

Bagi para remaja GMIM Yordan, pelatihan ini bukan hanya tentang memahami kosa kata asing, tetapi juga tentang membuka jendela baru ke dunia yang lebih luas dimulai dari layar YouTube, menuju keberanian untuk berbicara di kehidupan nyata.

 

Oleh: Acta Diurna

  • Bagikan