CINDERELLA COMPLEX

  • Bagikan
Juan Gregorius Kawuwung (foto ist)

Penulis : Juan Gregorius Kawuwung (Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Psikologi UNIMA (HIMAPSI)

Tentunya kamu cukup akrab dengan cerita Cinderella. Sebuah dongeng yang menceritakan tentang seorang wanita yang menderita karena perlakuan ibu dan saudari-saudari tirinya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan pangeran yang tampan dan keduanya pun jatuh cinta. atas dasar cinta yang sama, sang pangeran memutuskan untuk menikahi cinderella dan menjadikannya ratu bagi kerajaannya dan membawa ia dari penderitaan menuju hidup bahagia selamanya. Kisah Cinderella ini lah yang menjadi inspirasi dari sindrom yang banyak dialami oleh perempuan yang ada di dunia.

Cinderella complex adalah suatu keadaan yang mengacu pada keinginan yang tidak disadari wanita untuk dirawat oleh orang lain, atau semata-mata ketakutan seorang wanita untuk hidup secara mandiri. Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh Colette Dowling yang adalah seorang psikiter dalam bukunya “The Cinderella Complex : Womans Hidden Fear From Independence” pada tahun 1988. Sama seperti Cinderella dalam ceritanya, wanita yang mengalami sindrom ini cenderung mengharapkan seseorang untuk datang menyelamatkannya dari segala penderitaanya; dan jika sudah ditemukan, ia akan cenderung menggantungkan hidupnya kepada orang tersebut. Alih-alih berusaha sebaik mungkin untuk mengubah keadaan dirinya, ia lebih memilih untuk memasrahkan diri terhadap keadaan serta menunggu untuk diselamatkan terutama oleh laki-laki

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terbentuknya sindrom ini dalam diri seorang wanita. Beberapa di antaranya adalah kepercayaan diri dan pengalaman. Kurangnya kepercayaan diri pada wanita akan membuatnya merasa tidak mampu untuk meraih segala potensi diri yang sebenarnya mampu ia gapai. Pengalaman sendiri berkaitan dengan keadaan sosial maupun budaya tempat di mana wanita itu tumbuh dan berkembang. Lingkungan budaya patriarki—apalagi yang ekstrem—sering menjadi akar bagi rasa minder dan ketakutan untuk tumbuh pada wanita. Pada akhirnya, satu-satunya jalan keluar yang paling masuk akal adalah menggantungkan hidupnya pada orang lain, khususnya laki-laki.

Salah satu akibat yang akan kita temui pada wanita-wanita yang terindikasi cinderella complex adalah terperangkap dalam hubungan yang tidak sehat (toxic relationship). Akan tetapi wanita ini tetap mempertahankan hubungan itu karena alasan klasik dan sudah sangat klise: cinta. jika ditelusuri lebih dalam, akan ditemukan bahwa alasan sebenarnya adalah ketakutannya akan kehilangan seseorang yang mana menjadi tempat untuk menggantungkan hidupnya, bukan benar-benar karena cinta semata. Karena baginya, cinta dan rasa takut untuk hidup mandiri sangat sulit untuk dibedakan dan dipisahkan

Faktanya cinderella complex cukup umum ditemukan pada wanita-wanita di seluruh dunia. Adalah hal yang biasa dan normal untuk merasa takut menghadapi hidup seorang diri tapi bukan menjadi alasan dalam menuju kemandirian. Mulailah dengan mengenal lebih dalam diri sendiri. Dengan melihat secara menyeluruh kilas balik kehidupan yang telah dijalani maka akan ditemukan akar kenapa ketakutan-ketakutan itu muncul. Akui kemudian terima dengan rendah hati semuanya sebagai bagian dari semua proses menjadi “Aku yang saat ini”.  Kemudian temukan dan fokuskan diri pada semua potensi-potensi untuk membangun citra diri positif dan jujur. Tidak ada manusia yang terlahir tanpa memiliki satupun potensi pada dirinya, tidak terkecuali wanita yang terindikasi cinderella complex. Temukan dan yakinilah bahwa potensi itu adalah bagian dari diri yang utuh. Langkah selanjutnya adalah membangun kepercayaan diri yang sehat dan belajar menghadapi segala bentuk ketakutan yang datang. Poin terpentingnya adalah menerima, bukan menyangsikan ataupun menolak baik ketakutan ataupun potensi-potensi yang dimiliki. Belajar memahami bahwa ketakutan yang dialami adalah ilusi dan batasan-batasan yang diri kita sendiri ciptakan akibat dari pengalaman-pengalaman yang dialami sepanjang hidup. Datangilah profesional jika perlu. Memang terdengar paradoksal, akan tetapi mendapat bantuan dari orang yang berkompetensi pada bidangnya lebih baik dari pada menggantungkan diri pada orang yang belum tentu mampu menjaga dirinya sendiri. Salam Body, Mind, and Spiritual.

  • Bagikan