Amuk Segera – Berakar Tanpa Laga

  • Bagikan

Arus yang sedang berjalan pelan memulai pengembaraan, perlahan dia merangkak dan menggandeng aliran lainnya. Sedikit demi sedikit ia perlahan lebih karib dengan sorot makin rapat namun ganjilnya indraloka diriku sepertinya membungkam untuk tidak melihat bahwa arus yang besar sedang menyongsong membawa gejolak yang ternyata membelenggu sekujur kalbu.

“Dikau datang” mata yang terbungkam seketika ia terbuka. Renung terlihat dari mata seakan-akan ia tahu arus yang tertampak begitu jauh yang sangat alun ternyata membawa sekumpulan kecil menjadi gelombang yang bahkan menutup pandangan kepada nirmala.

Gelora tersua dengan Ia, Ia tetap berakar dan mempersilakan dia membasahi raga yang mati lama jauh sebelum samudra menganga.

Raga diselimuti tirta kelam, mengikis sukma perlahan, hingga sadarnya musnah.

Ia tahu. Ia tak lari, ia hanya diam.

Sebagai perlawanan, ia biarkan tirta menyerang lebih dahulu. Ia tak memulai laga, ia mempersilakan mereka menerjang.

Raga tak beringsut, kalbu menetap, jasad tetap tegak seolah enggan melawan. Namun bisik di dalam benaknya berkata lirih: tinggallah, biarkan.

Ombak berdatangan, semakin ia terbawa namun itu tidak merenggut nadinya. Lama ia berlaga, dia tidak menyerang dia hanya tinggal dan merasakan pertunjukan ombak.

“Dikau Mereda” rentang dia tempuh, ombak besar yang mengubah ia telah surut dengan waktu.

Ia tak melawan, ia mengikuti arus dan membiarkan segalanya berganti lewat pikir dan rasa.

Ia kian teguh, sebab ia tahu, tsunami yang datang sejatinya teduh, berjalan perlahan menjelma amarah, sebuah samudra yang menghembuskan gelombang. Sang Kala yang menentukan, namun tiada yang tahu.

Namun samudra yang tengah murka itu pun pasti akan reda jua, meski aku diterpa dan direndam seluruhnya oleh tirta yang tenang.

Oleh: Engie Pondaag

  • Bagikan