actadiurna.id – Penyelenggaraan Pemilihan Raya (Pemira) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) 2025 di Lobby Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) pada, Jumat (16/05/25).
Sejumlah mahasiswa memprotes kelalaian panitia Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) dan Badan Pengawas Pemilu Mahasiswa (Bawaslum) dalam proses pemungutan suara yang dinilai tidak terorganisir dan jauh dari kata kondusif.
Bermula ketika seorang mahasiswa memprotes minimnya Sumber Daya Manusia (SDM) di bagian registrasi. Dari data yang ada, sekitar 3.767 mahasiswa (atau 70% dari total pemilih) dijadwalkan menggunakan hak suaranya. Namun, hanya satu orang petugas yang melayani proses registrasi, sehingga antrean mengular dan proses berjalan lambat.
Situasi semakin memanas karena jadwal pemungutan suara yang seharusnya dimulai pukul 09.00 WITA, justru baru berlangsung sekitar pukul 10.30 WITA. Mahasiswa yang sudah menunggu sejak pagi mengaku kecewa atas keterlambatan tersebut.
“Kami sudah datang sesuai jadwal, tapi proses baru dimulai satu jam lebih lambat. Ini sangat merugikan kami sebagai pemilih,” ujar salah satu mahasiswa yang ikut mengantre.
Akibat keterlambatan dan lambannya proses registrasi, mahasiswa mendesak KPUM untuk memperpanjang waktu pemungutan suara. Mereka menilai waktu yang sempit tidak cukup untuk menampung seluruh pemilih yang ingin menggunakan hak suaranya, terlebih dengan antrean panjang yang terjadi akibat minimnya petugas.
Tidak hanya itu, beberapa mahasiswa juga melakukan aksi protes dan menuntut pertanggungjawaban KPUM atas kelalaian yang terjadi.
“KPUM harus bertanggung jawab. Ini bukan hanya soal teknis, tapi juga soal hak demokrasi mahasiswa yang terabaikan,” tegas seorang mahasiswa dalam aksi protes.
KPUM mengakui keterlambatan terjadi akibat distribusi kertas suara dan kelalaian dalam persiapan teknis, namun hingga berita ini diturunkan, belum ada permintaan maaf resmi dari panitia kepada mahasiswa.
Sebagai langkah cepat, KPUM menambah jumlah petugas registrasi dan membagi proses pendaftaran berdasarkan jurusan, tidak lagi digabung seperti sebelumnya. Upaya ini diharapkan dapat mempercepat antrean dan meminimalisir kemacetan di lobby FISIP.
Mahasiswa berharap, kejadian ini menjadi evaluasi penting bagi KPUM dan pihak terkait agar penyelenggaraan Pemira ke depan dapat berjalan lebih profesional, transparan, dan demokratis.
Reporter: Kreysita Abast
Redaktur: Nadia Morasa




