actadiurna.id – Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Antropologi dan Manajemen Sumber Daya Budaya: Perspektif Teori dan Aplikasinya” di Aula FISIP, Senin (19/05/2025).
Acara ini menghadirkan Prof. Dr. Pawennari Hijjang, MA., Guru Besar Antropologi Universitas Hasanuddin (Unhas), sebagai pemateri utama.
Prof. Pawennari Hijjang memaparkan alasannya menerima undangan sebagai narasumber.
“Pimpinan Fakultas dan mahasiswa sangat responsif. Begitu dihubungi, semuanya langsung setuju. Unsrat selalu terbuka untuk kegiatan ini, apalagi saya sering berkunjung ke sini,” ujarnya.
Ia juga mengomentari keterlibatan akademisi dan mahasiswa Unsrat dalam riset dan advokasi budaya.
“Di Unsrat, secara kuantitatif, lihat saja, tidak ada kursi yang kosong. Secara kualitatif, pertanyaan-pertanyaannya berkualitas. Tidak ada yang meninggalkan ruangan. Akademisi Unsrat banyak melakukan riset dan kerjasama dengan berbagai lembaga dalam dan luar negeri. Saya sarankan untuk melibatkan mahasiswa dalam riset sebagai pembelajaran dan sosialisasi,” sarannya.
Harapannya, materi kuliah umum tidak hanya sekedar informasi, tetapi juga diresapi dan diaplikasikan.
Ketua Jurusan (Kajur) Antropologi Unsrat, Titiek Mulianti, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program kuliah umum rutin yang dilaksanakan setiap bulan oleh masing-masing program studi di FISIP Unsrat. Jurusan Antropologi sebenarnya dijadwalkan pada bulan Juni, tetapi kami bertukar jadwal dengan Jurusan Ilmu Politik.
Lebih lanjut, Titiek menegaskan urgensi tema yang diangkat dalam kuliah umum ini. Ia menyoroti pentingnya pemahaman budaya di kalangan mahasiswa, khususnya Generasi Z yang menurutnya cenderung kurang memiliki ketertarikan terhadap isu budaya.
“Kuliah umum ini penting karena Antropologi mempelajari budaya dan perilaku. Generasi Z cenderung lebih manja, sehingga kita harus memotivasi mereka untuk mendalami warisan budaya. Banyak mahasiswa semester dua yang belum memahami Antropologi dan pentingnya melestarikan warisan budaya, jadi kuliah umum ini diharapkan dapat membantu,” tegas Kajur Antropologi.
Ia juga menyatakan bahwa kegiatan ini terbuka bagi seluruh mahasiswa lintas jurusan. Harapannya, mahasiswa dapat lebih peduli terhadap lingkungan, perilaku budaya, serta pelestarian artefak dan situs arkeologi.
Mahasiswi Antropologi Unsrat angkatan 2024, Moneka Pontoh, menyebut kuliah umum ini memberi wawasan baru.
“Manajemen budaya seperti Honai saat pandemi membuktikan budaya bisa jadi solusi dan budaya itu menarik tanpa batas. Kuliah umum ini juga bangkitkan minat saya untuk lanjut studi ke Unhas,” ujarnya.
Reporter:Evrina Bakara
Redaktur:Fhina Rantepadang
