Si Tou Timou Tumou Tou Utopis

  • Bagikan

actadiurna.id – Universitas Sam Ratulangi sering mengaku sebagai kampus Si Tou Timou Tumou Tou. Bagi kalangan para pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) maupun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), ini menjadi Univ ideal mereka nantinya, ketika menempuh ujian ke perguruan tinggi dan nantinya ikut dalam tahap pembelajaran. Justru ternyata apa yang disebut ekspektasi berbeda dengan realita. Banyak yang merasakan ketidakadilan struktural dalam beberapa proses belajar mengajar. Dalam kelas sering kali ditemukan dosen yang tidak kompeten untuk mengajar, kelas kemudian dinilai hanya menjadi tempat absen saja, bukan tempat untuk mengasah critical thinking hingga kesewenang-wenangan kampus yang meniadakan kebebasan akademik berupa disalahkannya outfit wanita karena dianggap mengundang kesetanan jantan para dosen pria (logika mistika). Hal-hal seperti itu yang sering terjadi berulang kali dan pakaian harus serapi apa yang menurut dosen itu rapi (body control).

Universitas Sam Ratulangi seharusnya bisa terevaluasi dari banyak kritikan mahasiswa. Jika memakai standar ilmu pengetahuan itu berkembang, maka kritik mahasiswa dari masa ke masa tentu sesuai perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini dalam dunia akademik adalah pengetahuan dasar (common sense). Dengan mengevaluasi secara menyeluruh, maka tanggung jawab moral kampus soal falsafah Unsrat Si Tou Timou Tumou Tou bisa dipenuhi dengan cara kampus memanusiakan manusia dalam hal dialektika kampus, bukan dialog temu wicara.

Dirumuskannya Si Tou Timou Tumou Tou di Universitas Sam Ratulangi

Ada dua hal yang selalu ditekankan Prof. W.J. Waworoentoe waktu itu. Yaitu, (1) ciptakan identitas khusus Unsrat dengan menggunakan identitas Sam Ratulangi yang kita gunakan sebagai nama universitas kita, supaya Unsrat dikenal dengan suatu identitas yang tidak dimiliki oleh perguruan tinggi manapun di dunia dan (2) gali sebanyak mungkin dan sejauh mungkin kebudayaan daerah karena salah satu fungsi utama perguruan tinggi adalah sebagai pusat kebudayaan.

Kemudian falsafah Si Tou Timou Tumou Tou pada 1979 oleh mantan rektor Unsrat Prof. W.J. Waworoentoe menyatakan falsafah ini dirumuskan di Universitas Sam Ratulangi, dengan mengambil nilai-nilai Sumekolah (Spirit to Study) dari Dr. G.S.S.J. Ratulangi. Sehingga apa yang terpenuhi darinya harus juga diberikan kepada orang lain. Itu yang menjadi asas-asas Si Tou Timou Tumou Tou.

Namun, kampus Universitas Sam Ratulangi yang katanya Kampus Tumou Tou/T2 (Memanusiakan Manusia), mungkin harus dievaluasi lagi. Apakah kampus yang memanusiakan manusia harus mengalami ketakutan di antara kaum rentan pelecehan seksual, pemborosan UKT, tidak adanya kebebasan akademik (Liberal Academy), dan masih banyak lagi kesusahan struktural yang dialami oleh mahasiswa/mahasiswi.

Jika dinilai secara realita, ini tidak menunjukkan falsafah Si Tou Timou Tumou Tou, Credo ergo sum (Aku Percaya maka aku Berpikir untuk Memanusiakan Manusia lain), melainkan kebalikannya Consumo ergo sum (Aku Mengkonsumsi Maka Aku Ada).

Si Tou Timou Tumou Tou “Manusia Belum dapat disebut Manusia jika Belum Memanusiakan Manusia”. Maka harus ada dorongan nilai moral secara universitas untuk memanusiakan manusia dalam setiap programnya maupun tahapan studi setiap mahasiswa karena hal tersebut merupakan tanggung jawab moral Universitas Sam Ratulangi yang memeluk erat falsafah itu agar kemudian ilmu yang dipelajari akan berlaku hingga ke masyarakat.

“Perlu dicatatkan kembali di sini bahwa apabila kita mengakui Si Tou Timou Tumou Tou sebagai falsafah atau pandangan hidup masyarakat, maka kita harus mengatakan bahwa masyarakatlah penciptanya dan bukan seorang pribadi. Bila masyarakat adalah penciptanya, maka nilai-nilainya mendapatkan nilai budaya dan berlaku sepanjang masa dari suatu masa yang tak dapat ditetapkan” – Prof. W.J. Waworoentoe.

Oleh: Endosoren

  • Bagikan
Exit mobile version