Mengubur Identitas Demi Mengeyangkan Media Sosial: Personal Branding atau Personal Pressure?

  • Bagikan

actadiurna.id – Pada masa ini, hampir seluruh aktivitas terkoneksi dengan media sosial. Mengapa demikian? Karena media sosial merupakan cara yang paling mudah untuk mendapatkan perhatian dari banyak orang tanpa harus repot-repot berbicara di depan banyak orang untuk menyampaikan pencapaian diri kita. Awalnya, personal branding merupakan cara untuk menunjukkan kompetensi dan karakter diri kepada orang lain. Namun, media sosial secara perlahan menggeser makna tersebut. Personal branding tidak lagi sekadar menampilkan siapa diri kita, tetapi juga membentuk gambaran mengenai siapa yang dianggap layak mendapatkan perhatian.

Tanpa disadari, standar mengenai “self-ideal” tidak lagi berasal dari nilai-nilai pribadi seseorang, melainkan dari apa yang terus-menerus dilihat di media sosial: produktif setiap hari, meraih banyak prestasi, sibuk mengikuti berbagai kegiatan, membangun bisnis sejak usia muda, 100 juta pertama di usia 25 tahun, hingga selalu tampak bahagia.

Dalam perspektif psikologi menurut tokoh pelopor psikologi humanistik Carl Rogers, kondisi seperti ini membuat ideal self menjadi semakin jauh dari real self. Diri ideal yang semula lahir dari aspirasi pribadi berubah menjadi hasil dari individu yang menyerap ekspektasi sosial di lingkungan sekitarnya. Akibatnya, kita mulai mengevaluasi diri bukan berdasarkan perkembangan yang nyata dalam hidup kita, melainkan berdasarkan seberapa dekat diri kita dengan standar yang dibentuk oleh lingkungan digital yang perlahan kita anggap sebagai standar dari personal branding.

Gap antara Ekspektasi dan Realitas
Semakin besar jarak antara ekspektasi dan realita, semakin besar pula kemungkinan munculnya tekanan psikologis. Sebagian dari kita akhirnya merasa: “Saya belum berhasil”, “Saya tertinggal”, “Kalau saya tidak punya prestasi, saya tidak menarik.”

Padahal, masalahnya bukan terletak pada kemampuan individu, melainkan pada standar ideal yang terus bergerak dan sulit dicapai.

Bahaya Identitas yang Dikorbankan
Pada akhirnya, sampailah kita pada keputusan untuk mematuhi standar media sosial. Rogers menekankan pentingnya organismic valuing process atau kemampuan individu mengenali nilai dan pengalaman pribadinya sebagai dasar dalam mengambil keputusan. Namun, media sosial sering kali mendorong arah yang berbeda. Muncul pertanyaan: “Konten apa yang disukai orang?”, “Postingan apa yang terlihat keren?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlahan menggantikan pertanyaan yang lebih mendasar dalam kepribadian kita: “Apa yang sebenarnya saya sukai”, “Kehidupan seperti apa yang ingin saya jalani”.

Di sinilah identitas mulai “dikubur”. Kondisi ini cukup berbahaya karena jika kita tidak memiliki pertahanan yang cukup atau mampu menerima diri dan tidak bergantung pada pencapaian atau penilaian orang lain. Maka kita benar-benar akan kehilangan diri sendiri. Dalam konteks personal branding, seseorang dapat mulai percaya bahwa dirinya hanya layak dihargai ketika memiliki pencapaian yang dapat dipamerkan. Akibatnya, nilai diri menjadi sangat bergantung pada validasi eksternal, sehingga rentan memicu kecemasan, kelelahan emosional, bahkan kehilangan keaslian diri.

Personal branding bukanlah musuh. Yang perlu diwaspadai adalah ketika proses membangun citra membuat kita semakin jauh dari diri yang sebenarnya. Dalam perspektif Carl Rogers, kesehatan psikologis tidak ditentukan oleh seberapa sempurna citra yang kita tampilkan, melainkan oleh seberapa selaras kehidupan yang kita jalani dengan diri kita yang autentik. Ketika “ideal self” lebih banyak dibentuk oleh algoritma daripada oleh nilai-nilai pribadi, personal branding dapat berubah menjadi personal pressure, dan saat itulah identitas perlahan dikorbankan demi sebuah citra.

Oleh: Chrystie Agu

  • Bagikan
Exit mobile version