actadiurna.id – Dalam proses perkuliahan, Al kini bukan hanya sebagai alat bantu, melainkan digunakan sebagai jalan pintas untuk membuat tugas. Bahkan, ketika sesi tanya jawab pun, pertanyaan yang berasal dari Al dan dijawab oleh Al. Kita membayar untuk kuliah dan menimba ilmu, tetapi sangat disayangkan saat mendapati tugas yang sulit, kita langsung mencari solusi instan. Padahal, dari kesultan itulah kita dilatih agar dapat berpikir kritis.
Mahasiswa seharusya adalah pemikir yang kritis dan inovatif. Bagaimana kita dapat berkembang ketika mahasiswa malah bergantung pada penggunaan Al? Itu seperti pedang bermata dua: dapat membantu kita berkembang lebih jauh atau malah membuat kita terjebak dalam jurang kemalasan. Jika digunakan dengan bijak, Al bisa menjadi teman belajar yang hebat, misalnya untuk menjelaskan konsep yang sulit dipahami, memberi contoh tambahan, mengoreksi tata bahasa, atau memberi umpan balik atas gagasan yang sudah kita tulis sendiri. Namun jika digunakan tanpa kendali, ia berubah menjadi tempat kita menitipkan seluruh tanggung jawab berpikir.
Tetapi kenyataannya masih banyak mahasiswa yang salah dalam menggunakan Al, dan dianggap normal oleh mereka padahal dampaknya sangat besar bagi mahasiswa. Menyalin jawaban tanpa membaca ulang, mengutip sumber yang ternyata tidak ada, hingga mengumpulkan tugas yang bahkan tidak dipahami isinya sudah dianggap hal biasa. Karena dilakukan bersama-sama, kebiasaan ini terasa wajar, padahal ia pelan-pelan mengikis kejujuran akademik, rasa percaya diri, dan kemampuan belajar mandiri. Belum lagi risiko informasi yang keliru, karena Al tidak selalu benar dan tetap perlu diperiksa oleh penggunanya.
Mahasiswa harus keluar dari kebiasaan buruk ini untuk menciptakan mahasiswa yang lebih kritis dan inovatif. Teknologi akan terus berkembang, dan Al akan semakin canggih. Karena itu, yang menentukan kualitas kita bukanlah seberapa cepat kita mendapatkan jawaban, melainkan seberapa dalam kita memahami dan seberapa berani kita berpikir sendiri. Al boleh menemani perjalanan kuliah kita, tetapi yang harus melangkah tetaplah kita sendiri.
Oleh: Ridel Langi
