Asap Semakin Tebal, Napas Semakin Menipis: Sejauh Mana Empati Pemerintah?

  • Bagikan
(Foto: Radar)

actadiurna.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya persoalan hutan yang terbakar, tetapi juga tentang manusia dan satwa yang harus menanggung dampaknya. Asap yang semakin tebal mengancam kesehatan masyarakat, sementara satwa liar kehilangan tempat tinggal dan sumber makanan. Menurut saya, kondisi ini seharusnya menjadi perhatian serius, bukan hanya ketika kebakaran terjadi, tetapi juga sebelum bencana semakin meluas.

Berdasarkan pemberitaan DetikHealth pada 16 Oktober 2026, Kementerian Kesehatan mencatat 283.270 kasus ISPA di tujuh provinsi terdampak karhutla hingga 13 Oktober 2026. Angka ini cukup memprihatinkan karena masyarakat harus menghadapi risiko gangguan pernapasan, terutama anak-anak dan lansia. Di saat yang sama, satwa liar juga terancam kehilangan habitat, bahkan bisa terluka atau mati akibat kebakaran.

Pemerintah memang telah melakukan upaya pemadaman. Namun, menurut saya, langkah tersebut perlu diimbangi dengan pencegahan yang lebih serius agar kebakaran tidak terus berulang. Empati pemerintah seharusnya tidak hanya terlihat dari pernyataan keprihatinan, tetapi juga dari kebijakan nyata untuk melindungi kesehatan masyarakat, menjaga satwa, dan mencegah kerusakan lingkungan.

Pada akhirnya, saya berpendapat bahwa keberhasilan penanganan karhutla bukan hanya soal seberapa banyak api berhasil dipadamkan, tetapi juga seberapa jauh kehidupan yang terdampak bisa dilindungi. Ketika asap semakin tebal dan napas semakin menipis, masyarakat membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar janji.

Oleh: Maria Sugiarto

  • Bagikan
Exit mobile version